bunga

Ibu dan Bayi ITP/Lupus Tetap Sehat Karena Allah


Rasanya hamil itu sesuatu ya. Ketika seorang wanita bisa hamil, rasa hidup ini begitu sangat bahagia, walaupun kehidupan si wanita itu pun bisa saja terancam. Namun mendapatkan titipan anugerah dari Allah itu menyenangkan. InsyaAllah ibu dan anak tetap sehat.

Saya tidak menyangka Allah memberikan rezeki anak di saat-saat tak terduga, di saat saya sedang ke luar kota. Subhanallah....

Jadi ini anak yang ada di dalam kandungan sudah ikut saya berjalan jauh.
Mulai dari Jakarta ke Makassar (2,5jam naik pesawat),
Makassar ke Sorowako (45 menit naik pesawat)
Sorowako ke Tolala (2jam naik mobil)
Tolala ke Lelewawo (1jam naik mobil)
Lelewawo ke Pakue (40menit naik mobil)
Sorowako-Makassar (12jam naik bis).
Dengan kondisi jalan berbukit-bukit dan terjal serta banyak tikungan tajam.
Begitu seterusnya saat pulang dari Makassar kembali ke Jakarta sekitar dua jam lebih.

Kalau ingat itu luar biasa. Tapi, si bayi tetap baik-baik saja di dalam kandungan saya. Pada saat itu, saya tidak tahu saya hamil. Namun, saya ingat sekali, lantunan dzikir, membaca ayat Suci-Nya tidak pernah lepas dari bibir dan hati ini. Saya selalu berharap bahwa saya bisa hamil. Perut sering saya elus-elus seakan-akan itu bayi ada di dalam kandungan.

Subhanallah, nikmat Allah yang mana lagi yang harus saya dustakan. Ternyata bayi itu ada di dalam rahim saya, kandungan saya. Saya mengetahuinya saat saya sedang berada di Medan dan memeriksakannya ke dokter kandungan di Medan. Kalau ingat itu semua, ternyata Allah masih melindungi  saya dan bayi saya yang masih hitungan Minggu (lebih tepatnya enam minggu).

***

Perjalanan panjang dan aktivitas saya setelah dari Sulawesi itu pun belum berakhir. Sesampainya Evi di Jakarta, kegiatan masih padat. Saya bertemu teman-teman. Berkunjung ke rumah saudara dari Depok ke Jakarta Barat. Dan melakukan berbagai kegiatan / aktivitas sebagai berikut :

Berkunjung ke rumah Founder Marisza Cardoba Foundation (MCF).
Makan pempek Lampung yang dibawa oleh Mas Yulvian dari Lampung di rumah Mba Marisza, Enak banget

Ini dia pempek asal Lampung, wuih enaknya banget. Terima kasih Mas Yulvian sudah dibawain saat tes MAIPA


Datang acara Idolanesia Award sebagai persembahan terpuji buat ITP.
Acara Idolanesia Award Pertama (Dari kiri : Evi, Valen, Pepi, Marisza, Embun)

Acara sambungan Idolanesia Award yang Pertama bersama Ibu Menteri



Foto odapi dan relawan ramai-ramai di tempat duduk Galeri Indonesia Grand Kanaya, West Grand Indonesia


Ikut tes MAIPA di RSCM Jakarta (sekarang tesnya bisa dilaksanakan tiap hari di RSCM Kencana). Tes MAIPA dilakukan bagi semua odapi untuk bisa menentukan ITP Sekunder atau ITP Primer. Tes ini Gratis untuk semua odapi (orang dengan ITP) di mana pun berada. Sebelum tes daftar dulu ya.

Foto bersama teman-teman odapi yang melaksanakan tes MAIPA
Foto bersama sahabat odapi yang sering konsultasi dengan Evi berasal dari Serang, Mba Ida Jilbab biru dan anaknya


Berkunjung ke rumah Ibu Sinta Nuriyah Wahid untuk meminta dukungan dan keluarga mensosialisasikan ITP kepada masyarakat.


Berkunjung ke rumah Ibu Sinta Nuriyah Wahid di Jakarta (dari kiri : Andriani, Evi, Marisza, Pak Albert, Tanti, Ibi Sinta)
Mengobrol dan sharing bersama salah satu anak Ibu Sinta dan Gusdur

Setelah berkunjung ke rumah Ibu Sinta, lanjut menjenguk teman yang sakit ITP+Lupus, Cie Ikke di Tangerang, dengan perjalanan dari Depok-Jakarta-Tangerang.
Itu pun masih belok-belok nyasar dan bingung cari alamatnya.

Foto Odapi menjengguk Cie Ikke di Tangerang (dari kiri Mba Marisza, Cie Ikke, Evi, Mba Tanti, Mba Andriani)

MasyaAllah kegiatan-kegiatan yang saya lakukan di atas sebenarnya itu capek sekali. Tapi Allah ternyata masih sayang sama saya dan bayi saya. Dan  alhamdulillah tubuh saya pun  masih kuat.

Sebenarnya di dalam perjalanan itu, apakah saya merasakan sakit? Apakah saya tidak menyadari ada bayi di dalam kandungan?

Maka jawabannya :

Rasa sakit di dalam rahim saya ada. Apalagi jika saya naik motor bersama suami atau naik mobil ketemu lubang maupun gundukan, sungguh sakitnya itu luar biasa.
Seperti ada yang berkumpul, menumpuk di rahim, dan menusuk-nusuk rahim. Akan tetapai,  Evi hanya berpikir, mungkin ini gejala mau haid. Saat itu tidak terpikir sama sekali, saya sudah telat haid atau tidak. Karena sebelum-sebelumnya emang saya suka telat haid mulai seminggu sampai dua minggu tapi saat ditespek hasilnya negatif. Jadi saya pun malas untuk tespek lagi dan menunggu saja sampai haid itu datang. Selain merasakan ada rasa sakit di rahim, saya juga memiliki perasaan aneh yang tidak pernah saya alami sebelumnya yaitu saya menjadi mudah sangat lelah dan capek. Kadang-kadang vertigo muncul, seolah-olah saya hendak mau pingsan.
Padahal sebelumnya-sebelumnya, saya jarang mengalami hal seperti itu.

Lagi-lagi ketika sakit itu muncul, saya selalu membaca dzikir dan ayat-ayat suci Allah.
Saya baca dzikir di dalam hati :
Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilahailallah, walhu akbar.
Hasbunallah, rabbunallah, rijalallah, 'ibadallah.

Kadang-kadang saya lengkapi dengan salawat nabi :
Shallallahu ala Muhammad
Allahumma shalli ala Muhammad

Tak lupa menyebut asmaul husna agar saya bisa memperoleh kekuatan dari Sang Pencipta :
Ya qowiyyu... (artinya Yang Terkuat)

Lalu saya berdoa memohon untuk dijenguk Rasulullah :
Qud biyadhi adrikni
Ya sayyidi ya rasulullah
(datanglah & jenguk kami, wahai tuan kami wahai rasulullah).

Selain itu, saya juga sering elus perut dan membacakan surat al-ikhlas sebanyak-banyaknya. Berharap Allah selalu melindungi saya dan melindungi perut saya. Padahal saya sendiri tidak tahu ada bayi atau tidak di dalam perut saya. Cuma perasaan saya begitu kuat, kalau si dedek bayi itu memang ada di rahim saya. Tapi saya tetap tidak mau tespek bila belum sebulan.

Saya berkata di dalam hati, "Ada atau tidaknya si dedek bayi did alam rahim saya ini, saya berharap rasa sakit di rahim hilang." Dan alhamdulillah rasa sakit itu sirna.

Dua hari yang lalu, rahim saya juga sakit, seperti ada sesuatu yang mengganjel. Ketika Evi baca surat al-ikhlas, sakitnya juga hilang, subhanallah. Mungkin karena saya sering baca surat Al-ikhlas sambil elus-elus perut dari sejak sebelum hamil.

Setiap keluar rumah, saya membaca surat al-ikhlas 11x dan masuk rumah baca al-ikhlas 3x. Hal ini untuk melindungi diri dari bahaya yang akan terjadi ketika keluar rumah. Sehingga Allah selalu bersama saya. Amalan ini saya dapat dari ustadz muridnya Syeikh Mustofa.

Lalu, saya pulang mendadak ke Medan dari Jakarta naik pesawat Batik Air. Karena ada urusan yang harus segera saya selesaikan, sampai saya tinggalkan jadwal seminar nasional hari Jumat di Bandung, padahal saya sudah bayar Rp500.000. Namun saya harus taat apa kata suami saya. Jika memang harus pulang besok (Jumat) maka saya pun harus pulang ke Medan.

Seminggu saya di Medan, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Saya merasa seperti ada yang mengganjal di perut saya. Dan saya melihat perut saya kok semakin membesar. Ini saya yang semakin gemuk, atau saya hamil.

Karena rasa penasaran yang begitu tinggi akibat rasa sakit di rahim tersebut yang selama ini saya rasakan, akhirnya saya meminta tolong kepada ayah kandung saya untuk membeli tespek di apotek. Keesokan paginya, saya mencobanya. Ternyata... Alhamdulillah garis dua, positif.
Nikmat Allah yang manakah yang harus saya dustakan.


Ketika saya berada di Medan, ketua jurusan magister Teknik Elektro saya juga memberikan saya tugas kampus yang baru agar menggantikan tugas-tugas perbaikan tesis proposal saya sebelumnya yang tidak kelar karena saya ga mampu menyelesaikan programnya.
Ya Allah baiknya kajur saya, para dosen saya, dan admin di Magister Teknik Elektro USU.
Mungkin ini rezeki anak saya.
Tapi yang pasti ini rezeki dari Allah swt.

Selanjutnya saya pergi kontrol ke dokter hematologi saya yang baik hati dan ramah, Dr. Gino Tann.

"Halo Dokter," sapa Evi

"Halo juga, Vi. Gimana Vi, sudah hamil?" tanya dokter langsung kepada saya, saat saya masuk ke dalam pintu.

"Inilah Dokter, Evi kemari kontrol karena mau kasih kabar, Evi sedang hamil...." jawab Evi.
Betapa senang dokter Gino mendengarnya. Para suster atau admin juga senang mendengarnya.

Evi dan dokter banyak ngobrol. Dan terakhir periksa laboratorium darah yang snagat banyak sampai hampir tiga jutaan. Hal itu berguna untuk mengetahui bagaimana keadaan Ibu dan Anak.

Dokter hanya berpesan, "Jangan minum susu dan makan tepung-tepungan."

InsyaAllah saran dokter akan saya patuhi agar saya dan bayi sehat selalu.

Ketika hasil lab selesai, saya bahagia karena alhamdulillah semuanya normal. Leukosit, eritrosit, hb, LED, autoimun APS, anti sm, dll bagus. Kecuali trombosit semakin turun diposisi 52ribu. (Normalnya 150rb-450rb/ul).

Berarti selama Evi hamil, ada sesuatu yang berubah dari diri Evi yaitu trombosit yang semakin turun. Mungkin karena ada autoimun ITP. Sebelumnya posisi trombosit Evi lumayan bagus 217rb, 160rb, 90ribu, 70ribu, dan sekarang hanya 50ribuan. Tidak pernah Evi serendah ini selama jadi survivor ITP. Bisa jadi karena ada si bayi yang juga butuh asupan makanan dan oksigen dari darah.

Ah ga masalah pikir saya. Anggap saja ini nikmat dari Allah. Titipan dari Allah yang harus dijaga. Walaupun trombosit rendah, insyaAllah nanti bisa naik lagi. Saya mencari buah kurma ajwa belum dapat lagi. Lagi pada kosong di toko online. Alhamdulilah, tiba-tiba ada sahabat lupus, Ummi Angga (Mba Laila) memberikan satu kilogram buah kurma ajwa kepada saya dikirimkan dari Bekasi ke Medan. Terima kasih Ummi Angga.

Saya selalu berdoa dan berharap, semoga si dedek bayi baik-baik saja, anakku, matahariku, bungaku, kebanggaanku, mutiaraku, kasihku, harapan bagiku.

Saya juga berterima kasih kepada dokter Waluyo, dokter kandungan di RS Puri Cinere Depok, karena program hamil yang nggak sampai dua bulan, bisa buat saya hamil.
Begitu juga terima kasih doa dari para ustadz, habib Qomar, Syeikh Mustofa, alhamdulillah saya menjadi hamil. Subhanallah...

Oh ya, saya memilih dokter Waluyo atas rekomendasi Pak Lukman, supir Taksi Ekspress. Padahal banyak rumah sakit anak dan dokter kandungan di dekat rumah Evi di Margonda Raya Depok. Tapi Evi yakin memilih beliau. Pak Lukman banyak menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari kena tipu untuk buat usaha pertambangan di Kalimantan hingga ia jual rumah dan mobilnya untuk melunasi utang-utangnya.
pak Lukman juga menceritakan pengalaman istrinya yang dioperasi beberapa kali karena kista dan sampai tiap tahun melahirkan anak-anaknya dengan sesar. Sekarang anaknya sudah tiga.
Banyak dokter kandungan yang sudah didatanginya, dan yang berhasil adalah dengan dokter Waluyo. Dari anak pertama sampai ketiga semua dengan dokter Waluyo.

Saya kenal Pak Lukman, waktu saya naik taksinya dari Depok ke Jakarta, mau menghadiri acara lupus di rumah perwakilan dubes Rusia, untuk konferensi wawancara dari Yayasan Lupus Indonesia. Mungkin ini sudah jalan dari Allah buat saya.

Kepulangan diri saya yang mendadak dua minggu lalu ke Medan, ternyata menyimpan banyak kejutan dan rezeki. Subhanallah... Wal hamdulillah...

Evi juga berterima kasih buat semua teman-teman Evi yang sudah mendukung Evi, mendoakan Evi hingga sekarang ini, Evi masih terus bisa bertahan.
Begitu juga dengan keluarga Evi yang sayang sama Evi.
Tak lupa para sahabat, ustadz, syeikh.
Dan suamiku...
Dalam doa saya selalu saya sebut semuanya, semoga Allah melancarkan semua urusan suami, teman-teman,keluarga, para ustadz/syeikh,sahabatku dan memberikan kalian nikmat kesehatan penuh berkah. Aamiin

saya selalu yakin pertolongan Allah begitu dekat jika kita dekat dan ingat pada-Nya. Ia selalu ada bersama kita. Walaupun Dia tidak ada, tapi keyakinan kita itulah yang membuat kita bisa bertahan.
Rasulullah bersabda,
"Allah swt berfirman, Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku sejauh satu jengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa. Dan jika dia mendekatiku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari." (HR. Muslim, Sahiih Al-Jami" As-Sagir, 2/1352)"

Saya selalu percaya akan hal itu.
Saya orangnya tidak mudah putus asa, walaupun kadang saya lelah, capek, sakit, lemas, saya berusaha untuk bangkit dan membantu orang lain untuk survive.

Begitu juga saat sebelum kepulangan saya ke Medan, ada pasien lupus menelpon saya jam dua pagi. Saya tidak bisa menolak. Walaupun saya baru tidur jam satu. Dan jam empat harus bangun kembali siap-siap menuju bandara Sukarno-Hatta. Saya yakin ini pasien telpon mendadak pasti karena ada sesuatu. Ternyata pasien tersebut sedang sakit buang air nggak berhenti, perutnya sakit luar biasa. Seperti biasa saya coba membimbingnya sesuai pengalaman dan ilmu pengetahuan yang pernah saya dapat.

Pernah juga dulu ada yang telpon jam satu pagi, jam sebelas malam, tapi tidak pernah saya tolak. Walaupun saya sendiri pada saat itu juga sedang sakit. Karena ketika kita membuat seseorang bahagia dan terasa tenang, atau berkurang sakit, berkurang masalahnya, maka kita pun pasti akan mendapat balasannya.
Percayalah akan hal itu...
Apakah rezeki, doa, harapan, kedekatan, dll.
Ada saja kebaikan dari Allah yang akan kita terima.

Saya tidak pernah membedakan status sosial, suku, agama dari pasien-pasien yang ingin berbagi dan berkonsultasi dengan saya, karena saya senang berbagi.
Bisa saja sebenarnya telponnya tidak saya angkat, namun tidak saya lakukan.
Biasanya kalau telpon tidak saya angkat bisa jadi itu karena saya sedang sibuk atau ada yang dikerjakan. Dan saya balas lewat sms, kirimnya pakai sms saja. InsyaAllah dijawab.
Sebab kalau saya terima telpon saat saya masih sibuk dan keadaan saya masih repot, maka saya akan merasa terganggu karena pasien biasanya curhatnya panjang. Saya juga ga mau mengecewakan pasien  jika saya bilang saya sedang sibuk, ada pekerjaan. Makanya saya lebih senang SMS, whatsapp, dan bbm-an hehehe. Jadi walaupun sibuk, saat ada waktu senggang bisa dibalas pertanyaannya.

Semoga suatu saat anak saya bisa membaca setiap kisah ini, bisa semakin semangat dalam menjalani setiap kehidupan. Dan selalu ingat Allah di mana pun ia berada.
Semoga anak saya tetap kuat, dan ibunya juga kuat. Aamiin.

Energi saya sepertinya mulai mau habis nih, jadi saya pamit istirahat dulu ya teman-teman.
Selama hamil, saya mudah cepat lelah...
Tapi tetap dzikir trus agar Allah selalu melindungi saya dan bayi saya...
Semangat....

Salam santun,
~Evi A.~
Odapi dan Odapus Medan.
Medan, 30 Agustus 2015, revisi 6 Oktober 2015


#ITP
#itp_id
#kehamilan
#lupus
#autoimunne
#trombositopenia
#platelet
#doa
#dzikir
#bayi
#samari
#idolanesia
#SmileWithItp
#maipa

Posting Komentar untuk "Ibu dan Bayi ITP/Lupus Tetap Sehat Karena Allah"